Penebangan Pohon di Perbatasan Boyong Pante–Blongko Tuai Protes, Warga Soroti Minimnya Informasi dan Dampak Lingkungan
Minsel — Aktivitas penebangan pohon di bahu jalan nasional yang melintasi perbatasan Desa Boyong Pante dan Desa Blongko menuai protes dari warga. Selain dinilai minim informasi, kegiatan tersebut juga disebut berdampak langsung pada tanaman produktif milik masyarakat.
Sejumlah warga menyatakan tidak pernah menerima pemberitahuan ataupun sosialisasi sebelum penebangan dilakukan. Mereka baru mengetahui adanya aktivitas tersebut setelah menemukan kondisi tanaman di sekitar lokasi mengalami kerusakan.
“Tidak ada pemberitahuan sama sekali. Kami hanya melihat hasilnya, pohon kami sudah rusak,” ujar salah satu warga.
Kerusakan paling banyak dilaporkan terjadi pada tanaman buah, terutama rambutan. Cabang yang patah hingga kerusakan pada bagian utama pohon dikhawatirkan akan memengaruhi produktivitas hasil panen ke depan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di kalangan warga mengenai prosedur yang ditempuh dalam pelaksanaan penebangan. Tidak adanya papan proyek atau penanda kegiatan di lokasi membuat masyarakat kesulitan mengetahui pihak pelaksana maupun dasar hukum kegiatan tersebut.
Warga menilai, setiap aktivitas yang berkaitan dengan ruang publik, khususnya di jalur jalan nasional, seharusnya dilakukan secara terbuka dan memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar. Mereka juga menekankan pentingnya komunikasi dengan masyarakat sebelum kegiatan dilakukan.
Desakan agar dilakukan penelusuran pun disampaikan kepada instansi terkait. Pemerintah daerah bersama dinas teknis diminta untuk memastikan apakah kegiatan tersebut telah memenuhi ketentuan perizinan dan standar operasional yang berlaku.
Selain itu, aparat penegak hukum diharapkan dapat mengambil langkah apabila ditemukan adanya pelanggaran. Warga menegaskan bahwa kepastian hukum penting untuk menjaga ketertiban serta melindungi hak masyarakat.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak yang melakukan penebangan. Kondisi tersebut membuat warga berharap adanya klarifikasi terbuka serta langkah penyelesaian, termasuk kemungkinan pemulihan atau kompensasi atas kerusakan tanaman yang terjadi.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena menyangkut keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan perlindungan terhadap lingkungan serta kepentingan masyarakat sekitar.
(E. Laoh | Tim Redaksi)











Leave a Reply