Dari Ruang Kelas ke Aksi Nyata: Kolaborasi RI–Belanda Ubah Cara Siswa Pahami Krisis Iklim
Bogor — Pendekatan pendidikan yang selama ini identik dengan teori di ruang kelas mulai bergeser. Di sejumlah sekolah di Bogor, siswa kini diajak menghadapi langsung persoalan nyata: krisis iklim yang kian terasa dampaknya.
Inisiatif ini digerakkan oleh DeTara Foundation melalui program School-Led Climate Action 2026, hasil kolaborasi dengan lembaga internasional Wilde Ganzen Foundation dan Global Exploration dari Belanda. Program ini menghadirkan metode pembelajaran berbasis aksi, di mana sekolah tidak lagi sekadar tempat belajar, tetapi menjadi ruang eksperimen solusi lingkungan.
Sejumlah sekolah terlibat dalam program ini, antara lain Yayasan Al Ghazali Kota Bogor, SMAN 4 Kota Bogor, SMAN 2 Cibinong (SMAVO), serta SMK Golden Ranca Bungur. Kegiatan ini juga terintegrasi dalam program School for School – Global Exploration Indonesia 2026 yang mempertemukan pelajar Indonesia dengan siswa dari Zwijsen College, Belanda.
Sebanyak 30 siswa dan 5 guru dari Belanda hadir langsung, berinteraksi dan bekerja sama dengan pelajar Indonesia. Mereka tidak hanya berdiskusi, tetapi turut menjalankan berbagai praktik sederhana yang berdampak nyata terhadap lingkungan sekolah.
Founder DeTara Foundation, Desi Sutejo, menyebut pendekatan ini sebagai langkah penting dalam membangun kesadaran yang berakar pada pengalaman.
“Kesadaran tidak cukup dibangun lewat teori. Anak-anak perlu mengalami, mencoba, dan melihat sendiri dampak dari tindakan mereka,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini mengangkat empat isu utama: pengelolaan air, pengurangan sampah, efisiensi energi, serta ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati. Siswa diajak memahami krisis air melalui pembelajaran siklus air, mengelola sampah dengan konsep 3R, hingga menciptakan solusi energi alternatif sederhana.
Beberapa inovasi yang lahir dari kegiatan ini antara lain pembuatan ecobrick, audit penggunaan listrik di sekolah, hingga pemanfaatan sepeda bekas sebagai sumber energi alternatif. Di sektor pangan, siswa mempraktikkan metode hidroponik dan pertanian vertikal sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan berbasis sekolah.
Direktur DeTara Foundation, Latipah Hendarti, menilai bahwa kolaborasi lintas negara memberikan nilai tambah yang signifikan.
“Pertemuan ini bukan sekadar pertukaran pelajar, tetapi pertukaran cara berpikir. Mereka belajar melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda,” katanya.
Selain kegiatan lingkungan, interaksi budaya menjadi bagian penting dalam program ini. Para siswa saling berbagi pengalaman melalui aktivitas memasak makanan lokal, permainan tradisional, hingga pertunjukan seni. Hal ini memperkuat hubungan sosial sekaligus membangun empati lintas budaya.
Program ini tidak berhenti pada kegiatan kunjungan semata. DeTara Foundation menyiapkan kelanjutan melalui kompetisi GEN-Z-Alpha Climate Action, yang dirancang untuk mendorong kebiasaan ramah lingkungan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Dengan pendekatan yang menggabungkan aksi, kolaborasi, dan pembelajaran lintas budaya, program ini menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan kecil—yakni sekolah. Dari sana, kesadaran tumbuh, kebiasaan terbentuk, dan masa depan yang lebih berkelanjutan mulai dirancang.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
