Pembukaan Rakorda PGLII Kota Bandung Diwarnai Seruan Rohani: “Jadilah Hamba, Bukan Sekadar Pelayan”
Bandung, 18 Mei 2026 — Pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakorda) Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bandung Periode 2025–2029 berlangsung dalam suasana ibadah yang penuh keteduhan rohani di GKKI COCCC Bandung Textile Center, Jalan Kebon Jati No. 44–88, Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jawa Barat 40181.
Berbeda dari pembukaan kegiatan organisasi pada umumnya, rangkaian ibadah kali ini terasa lebih reflektif. Sejak pujian penyembahan dimulai, para peserta tampak mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh penghayatan. Beberapa pelayan Tuhan terlihat menundukkan kepala dalam doa, sementara suasana ruangan dipenuhi nuansa penyembahan yang tenang namun kuat.
Pembukaan Rakorda dipimpin langsung oleh Ketua PD PGLII Kota Bandung, Pdt. Mulianto Halim, M.Th, yang menegaskan bahwa Rakorda bukan hanya forum penyusunan program kerja, melainkan kesempatan untuk menyatukan kembali visi pelayanan gereja di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Momentum rohani semakin terasa ketika Pdt. Ricardo R. J. Palijama menyampaikan firman Tuhan dari Kisah Para Rasul 1:6–8. Dalam khotbahnya, ia menyoroti makna hidup sebagai seorang hamba Tuhan yang sejati.
Menurutnya, banyak orang ingin terlihat aktif dalam pelayanan, tetapi tidak semua siap hidup dalam proses pembentukan Tuhan. Ia menegaskan bahwa menjadi hamba Tuhan bukan soal posisi, melainkan soal kesediaan untuk taat dan setia, bahkan ketika tidak mendapat sorotan.
“Hari ini gereja tidak kekurangan orang pintar berbicara. Gereja membutuhkan hamba yang hidupnya bisa menjadi kesaksian,” ujar Pdt. Ricardo di hadapan peserta ibadah.
Kalimat tersebut langsung mengubah suasana ibadah menjadi lebih hening. Para peserta tampak serius menyimak pesan demi pesan yang disampaikan. Firman yang dibawakan tidak hanya berbicara tentang pelayanan di altar, tetapi juga tentang karakter, kerendahan hati, dan kehidupan doa seorang pelayan Tuhan.
Dalam penyampaiannya, Pdt. Ricardo juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar gereja saat ini bukan hanya pengaruh dunia luar, tetapi ketika pelayan Tuhan mulai kehilangan api panggilan dan hanya menjalankan pelayanan sebagai rutinitas.
Ibadah pembukaan Rakorda ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Bagi banyak peserta, momen tersebut terasa seperti panggilan untuk kembali memperbaiki kehidupan rohani dan memperkuat komitmen pelayanan kepada Tuhan.
Hingga berita ini diterbitkan, rangkaian ibadah pembukaan masih berlangsung dengan suasana penuh kekhusyukan dan kebersamaan antar gereja serta lembaga Injili di Kota Bandung.
(Jurnalis: Romo Kefas)



