Flyover Bulak Kapal Didorong Dipercepat: Antara Kebutuhan Mendesak dan Tantangan Anggaran
Kota Bekasi, 28 April 2026 — Wacana percepatan pembangunan flyover di kawasan Bulak Kapal kembali menguat pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Pemerintah Kota Bekasi kini berada di persimpangan antara kebutuhan mendesak peningkatan keselamatan dan keterbatasan dukungan anggaran.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, menegaskan bahwa proyek tersebut tidak lagi bisa dipandang sebagai rencana jangka panjang semata. Ia menyebut, dorongan percepatan datang dari tingkat pusat, sehingga langkah administratif segera disiapkan untuk mempercepat realisasi.
“Ini sudah menjadi kebutuhan mendesak. Kita harus bergerak lebih cepat dari biasanya,” ujarnya.
Dari sisi kesiapan, pembebasan lahan disebut telah rampung dengan nilai sekitar Rp100 miliar. Namun persoalan utama kini bergeser ke tahap pembiayaan pembangunan fisik yang membutuhkan dana jauh lebih besar.
Perkiraan kebutuhan total pembangunan flyover mencapai Rp250 miliar. Hingga saat ini, kontribusi dari pemerintah provinsi masih terbatas, sehingga terdapat selisih anggaran yang cukup signifikan.
Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Bekasi untuk mencari dukungan tambahan dari pemerintah pusat. Harapannya, skema bantuan nasional dapat menjadi solusi untuk menutup kekurangan anggaran tanpa harus menunda proyek.
Namun di sisi lain, percepatan proyek juga menuntut pengawasan yang ketat. Sejumlah pihak menilai bahwa proyek dengan nilai besar dan tekanan waktu tinggi berpotensi menghadapi risiko perencanaan yang tidak matang jika tidak dikawal dengan baik.
Tri memastikan bahwa percepatan yang dilakukan tetap akan mengikuti prosedur dan perencanaan yang matang. Ia menekankan bahwa aspek keselamatan masyarakat menjadi alasan utama di balik dorongan percepatan ini.
“Yang kita kejar bukan hanya cepat, tetapi juga tepat dan aman,” tegasnya.
Flyover Bulak Kapal selama ini dipandang sebagai solusi untuk mengurangi konflik lalu lintas di perlintasan sebidang yang padat. Dengan meningkatnya mobilitas di wilayah Bekasi, kebutuhan infrastruktur semacam ini semakin tidak terelakkan.
Kini, publik menanti apakah percepatan ini benar-benar akan berujung pada realisasi konkret, atau kembali terhambat oleh persoalan klasik pembiayaan dan koordinasi antarinstansi.
Romo Kefas
Redaksi Pelita Nusantara Group











Leave a Reply