Dari Indramayu, Para Guru Besar Serukan Revolusi SDM Nasional Menuju Indonesia 100 Tahun Merdeka
Indramayu, 2 Juni 2026 – Ketika banyak pihak masih berkutat pada persoalan pendidikan sehari-hari, puluhan guru besar dan cendekiawan nasional justru mengarahkan pandangan jauh ke depan. Mereka membahas bagaimana Indonesia harus menyiapkan generasi yang mampu memimpin bangsa saat memasuki satu abad kemerdekaan dan menghadapi kompetisi global yang semakin kompleks.
Sebanyak 50 profesor dari berbagai bidang ilmu berkumpul di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, dalam sebuah forum pemikiran strategis yang bertepatan dengan momentum Hari Lahir Pancasila. Pertemuan tersebut menjadi ruang pertemuan gagasan lintas disiplin untuk merumuskan fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.
Forum itu menghadirkan sejumlah akademisi terkemuka, di antaranya Prof. Yohanes Surya, Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. Sri Widiyantoro, Prof. Dr. Hardinsyah, Prof. Dr. Abdullah Puteh, Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, Prof. Dr. Buyung Sarita, Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, Prof. Dr. Tulus Suryanto, serta puluhan profesor lainnya yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan nasional.
Dalam diskusi yang berlangsung sepanjang simposium, para akademisi menilai bahwa tantangan Indonesia ke depan bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, melainkan kemampuan bangsa menghasilkan manusia unggul yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), digitalisasi global, perubahan iklim, hingga transformasi dunia kerja dinilai akan mengubah wajah peradaban dunia. Oleh karena itu, pendidikan Indonesia tidak boleh lagi berjalan dengan pola lama yang hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata.
Para peserta menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang mampu mengintegrasikan pembentukan karakter, penguasaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, keterampilan profesional, dan nilai-nilai kebangsaan dalam satu kesatuan yang utuh.
Menurut para guru besar, Indonesia memiliki bonus demografi yang sangat besar. Namun bonus tersebut dapat berubah menjadi beban apabila tidak diiringi dengan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi produktif, kreatif, dan inovatif.
Dalam berbagai sesi pembahasan, muncul kesepahaman bahwa pendidikan masa depan harus mampu melahirkan pencipta lapangan kerja, peneliti, inovator, dan pemimpin bangsa, bukan sekadar pencari pekerjaan. Karena itu, penguatan riset, pendidikan vokasi, kewirausahaan, dan penguasaan teknologi menjadi bagian penting dalam agenda transformasi pendidikan nasional.
Penggagas forum, Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, menegaskan bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari pembangunan manusia. Menurutnya, kemajuan negara-negara besar di dunia lahir dari keseriusan mereka membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan dan berorientasi jauh ke depan.
Momentum Hari Lahir Pancasila dipilih karena dinilai memiliki makna strategis sebagai pengingat bahwa seluruh proses pembangunan nasional harus tetap berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa. Para akademisi menilai bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus tetap berada dalam koridor kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan moralitas publik.
Forum tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi yang akan dirumuskan menjadi dokumen pemikiran strategis untuk disampaikan kepada para pemangku kebijakan. Dokumen itu diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik bagi upaya memperkuat kualitas pendidikan nasional dalam menghadapi tantangan abad ke-21 dan seterusnya.
Dari sebuah kawasan pendidikan di Indramayu, para guru besar itu mengirimkan pesan yang kuat: masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa besar kekayaan alam yang dimiliki, tetapi oleh kualitas manusia yang dipersiapkan sejak hari ini. Pendidikan, dalam pandangan mereka, tetap menjadi jalan paling strategis untuk membangun peradaban bangsa yang maju, berdaulat, dan berdaya saing global.
Jurnalis: Atma Nurdjati
Editor: Tim Redaksi



