Saat Mahasiswa Mengetuk Pintu Kekuasaan, DPRD Kota Bogor Janji Sampaikan Pesan ke Senayan
Bogor – Terik matahari yang menyelimuti Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor, Selasa (23/6/2026), tidak menyurutkan semangat ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bogor Raya. Mereka turun ke jalan membawa sederet tuntutan yang mencerminkan kegelisahan terhadap berbagai persoalan bangsa yang dinilai belum menemukan solusi memadai.
Di tengah barisan mahasiswa yang menyuarakan aspirasi, pimpinan DPRD Kota Bogor bersama jajaran Pemerintah Kota Bogor memilih hadir langsung menemui massa aksi. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara generasi muda dan para pemangku kebijakan daerah.
Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, menerima langsung dokumen tuntutan mahasiswa yang berisi tujuh poin aspirasi strategis. Mulai dari evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penataan penggunaan anggaran negara, pengendalian harga kebutuhan pokok, hingga tuntutan terhadap penguatan pemberantasan korupsi dan mafia tanah.
Menurut Adityawarman, aspirasi yang disampaikan mahasiswa merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa yang patut diapresiasi. Ia menilai mahasiswa masih menjalankan peran historisnya sebagai kelompok intelektual yang kritis terhadap berbagai kebijakan publik.
“Kami menghormati apa yang menjadi perhatian adik-adik mahasiswa. Aspirasi ini akan kami terima dan kami teruskan kepada lembaga yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya,” ujarnya di hadapan peserta aksi.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa sebagian besar tuntutan yang disampaikan berada dalam domain kebijakan nasional. Karena itu, pemerintah daerah maupun DPRD Kota Bogor tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengambil keputusan terhadap substansi tuntutan tersebut.
Namun DPRD Kota Bogor berkomitmen untuk menjalankan fungsi representasi dengan meneruskan suara mahasiswa kepada DPR RI dan instansi terkait di tingkat pusat. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tanggung jawab moral agar aspirasi masyarakat tidak berhenti di tingkat daerah.
Aksi yang melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bogor itu berlangsung dalam pengawalan aparat keamanan dan berakhir tanpa insiden. Selain menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang ada, mahasiswa juga menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan rakyat.
Kehadiran unsur Forkopimda dalam aksi tersebut menunjukkan bahwa ruang demokrasi di Kota Bogor tetap terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Di sisi lain, gerakan mahasiswa kembali mengingatkan bahwa berbagai persoalan nasional masih menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan generasi muda.
Bagi para mahasiswa, aksi ini bukan sekadar turun ke jalan. Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa suara publik tetap terdengar hingga ke meja para pengambil keputusan di tingkat nasional.
Jurnalis: Romo Kefas



