Bandung – Wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai langkah tersebut perlu dikaji secara matang agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang bagi dunia pendidikan nasional.
Pandangan Komisi X DPR RI yang meminta pemerintah melakukan kajian mendalam sebelum mengambil keputusan dinilai menjadi langkah yang tepat. Sebab, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi mencetak tenaga kerja, tetapi juga menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan, budaya, pemikiran kritis, hingga pembentukan karakter bangsa.
Perubahan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat membuat kebutuhan industri hari ini belum tentu sama beberapa tahun mendatang. Banyak profesi baru muncul seiring perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang sebelumnya bahkan tidak pernah diprediksi.
Karena itu, menentukan sebuah jurusan “tidak relevan” hanya berdasarkan kondisi industri saat ini dinilai terlalu terburu-buru. Bidang ilmu yang terlihat kurang diminati sekarang bisa saja justru menjadi kebutuhan penting di masa depan.
Selain aspek industri, pendidikan tinggi juga memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan ilmu-ilmu sosial, budaya, seni, bahasa, sejarah, hingga filsafat yang berperan penting dalam membangun identitas dan peradaban bangsa.
Jika seluruh jurusan hanya diukur dari kebutuhan pasar kerja, dikhawatirkan kampus akan kehilangan fungsi dasarnya sebagai tempat membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan memiliki nilai kemanusiaan.
Sejumlah pengamat menilai persoalan utama bukan terletak pada keberadaan jurusan, melainkan bagaimana perguruan tinggi mampu menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masa depan.
Program studi yang selama ini dianggap kurang relevan tetap dapat berkembang apabila mampu beradaptasi dengan teknologi, membuka keterampilan baru, dan memperkuat kompetensi mahasiswanya.
Dalam era perubahan yang bergerak sangat cepat, kemampuan berpikir, beradaptasi, dan belajar sepanjang hayat justru menjadi modal penting bagi lulusan perguruan tinggi untuk menghadapi tantangan dunia kerja di masa mendatang.
Karena itu, solusi terbaik dinilai bukan sekadar menutup program studi tertentu, tetapi memperkuat kualitas pendidikan agar lebih fleksibel, inovatif, dan mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dasar pendidikan itu sendiri.
Jurnalis RT/Rgy
Editor Romo Kefas



