Virus Hanta Perlu Diwaspadai, Kebersihan Lingkungan Jadi Kunci Pencegahan
Jakarta — Ancaman penyakit yang berasal dari hewan pengerat kembali menjadi perhatian masyarakat. Virus Hanta, yang ditularkan melalui tikus, dapat memicu gangguan kesehatan serius apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Virus ini banyak ditemukan di lingkungan yang kurang bersih dan memiliki populasi tikus tinggi, seperti gudang, pasar tradisional, area pertanian, rumah kosong, hingga tempat lembap yang jarang dibersihkan. Penularan terjadi melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang telah terinfeksi.
Dr. Jusuf Kristianto, MPH, PhD, menjelaskan bahwa partikel virus dapat masuk ke tubuh saat seseorang menghirup debu yang tercemar kotoran tikus kering. Risiko juga meningkat ketika seseorang membersihkan area yang terkontaminasi tanpa menggunakan alat pelindung diri.
“Sering kali masyarakat tidak menyadari bahwa membersihkan gudang atau ruangan lama tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko terpapar Virus Hanta,” ujarnya.
Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi akibat kontak langsung dengan sarang tikus atau melalui gigitan tikus yang terinfeksi.
Gejala awal penyakit biasanya ditandai dengan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh terasa lemah, hingga mual dan muntah. Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas, batuk, nyeri dada, penurunan tekanan darah, hingga gangguan fungsi ginjal.
Kelompok yang dinilai lebih rentan terhadap paparan virus ini antara lain petani, pekerja gudang, petugas kebersihan, peternak, serta masyarakat yang tinggal di kawasan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.
Untuk mencegah penyebaran Virus Hanta, masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar. Sampah harus dibuang secara rutin dan area lembap perlu dibersihkan agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus.
Selain itu, lubang atau celah rumah sebaiknya ditutup rapat untuk mencegah tikus masuk ke dalam rumah. Penyimpanan makanan juga dianjurkan menggunakan wadah tertutup.
Dr. Jusuf mengingatkan agar masyarakat tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu dalam kondisi kering. Cara tersebut dapat membuat partikel virus beterbangan di udara dan mudah terhirup.
Langkah yang dianjurkan adalah menyemprot area dengan cairan disinfektan terlebih dahulu, kemudian membersihkannya menggunakan kain basah sambil memakai masker dan sarung tangan.
Ia juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot berat, atau sesak napas setelah kontak dengan tikus maupun lingkungannya.
“Pencegahan terbaik dimulai dari lingkungan yang bersih dan kesadaran menjaga kesehatan bersama,” tutupnya.
Jurnalis: Romo Kefas



